Muwashaffat Muslim

Muwashaffat Muslim
Assalamu'alaikum wr.wb

Rabu, 22 Januari 2014

Islam Itu Menyeluruh dan Sempurna (1)

Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi. (Q.S Al-Fath : 28)

Puji syukur kepada Allah Subahanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kita nikmat keimanan dan nikmat keislaman sehingga kita masih bisa merasakan indahnya islam merasakan nikmatnya shalat, sungguh tak dibayangkan apa jadinya kita tanpa kedua nikmat itu.

Saudaraku, kita mengetahui dan menyadari bahwa Islam itu Sempurna, Islam itu menyeluruh. Bukan hanya sekadar aturan ibadah, tetapi merupakan sebuah aturan kehidupan, tidak hanya untuk orang muslim, namun menjadi sebuah Rahmatan lil 'alamin. Namun, masih banyak juga orang-orang yang belum menyadari bahwa aturan Islam itulah yang terbaik, mereka lebih memilih aturan lain sebagai pengatur hidupnya dan merasa bahwa aturan hidup itulah yang terbaik. Di sisi lain, ternyata kita juga belum sering untuk memberitahu mereka terkait hal ini. Kita lebih asyik mendebat pemikiran mereka menggunakan logika kita bukan dengan aturan Islam. Tulisan dibawah ini mungkin sedikit membandingkan bahkan membantah beberapa pemikiran yang mungkin populer di sekitar kita.

1. Karl Marx

Nama ini sangat populer di benak kita, nama ini sungguh terkenal di negara-negara Sosialis dan menjadi pencetus sebuah ajaran yang sekarang dikenal sebagai ajaran Marxisme. Saya akan membahas salah satu gagasan Karl Marx yakni yang menyatakan bahwa Agama adalah candu. Bagaimana menurut pandangan Islam?

Sebenarnya ini pernyataan subjektif dari seorang Karl Marx aja, sebab ini sesuai sama pengamatan dia di negaranya dan (mungkin) pada masa Romawi bahwa agama hanya alat seorang penguasa agar rakyat tidak memberontak dan sibuk dengan perkara ritual.

Namun, sebenarnya Rasulullah shalallahu 'alaihi wa Sallam telah menjawab hal ini dengan sabda beliau.

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Daary radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama itu nasihat”. Kami pun bertanya, “Hak siapa (nasihat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasihat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”. (HR. Muslim)

Klo agama hanya sebagai candu kenapa Imam Al-Qurani rahimahullah mau menegur Muhammad Al-Fatih yang melanggar syariat Allah
subahanahu wa Ta'ala dalam salah satu keputusannya.

Klo agama hanya sebagai candu kenapa Imam Ibnu Taimiyah
rahimahullah mengancam sulthan mamluk bahwa ia akan melepaskan baiatnya jika sang sulthan tidak mau berjihad melawan orang-orang tartar. 
Islam membuktikan bahwa agama adalah sebuah jalan kebenaran, dan tentunya sesuai dengan aturan sang pencipta yang merupakan aturan terbaik.

Wallahu a'lam bisshawab

Minggu, 29 Desember 2013

Jagalah Saudaramu Ukhti (Teguran bagi para akhawat)

Sebelum membahas mengenai inti dari pembahasan, saya ingin terlebih dahulu mendefinisikan akhawat. Siapa kah mereka? Apakah sesosok perempuan yang menggunakan jilbab 'rapih'. Apakah seorang aktivis da'wah kampus? Atau? Sekali lagi saya mendefinisikan kata akhawat agar tidak terjadi kerancuan dalam tulisan saya ini dan mungkin juga meluruskan pengertian yang salah mengenai kata akhawat. Sepengetahuan saya, yang namanya akhawat ya selain ikhwan, artinya semua perempuan baik yang berjilbab maupun tidak, baik yang berjilbab rapih (syar'i) maupun yang jilbabnya hanya sebagai penutup kepala -kadang disebut ikhwit, sejujurnya saya juga baru mendengar kosa kata ini-, baik yang aktivis da'wah maupun aktivis lain. Nah, jadi yang dimaksud akhawat disini adalah selain ikhwan.

Berawal dari kisah nyata yang mendasari tulisan ini dan mungkin bisa menjadi sebuah pelajaran bagi kita semua. 

Kisah 1  

Suatu hari, disebuah kepengurusan LDK ada seorang ikhwan yang sebut saja bernama Dhika. Dhika cukup terkenal di kalangan pengurus, wajar saja notabene ia merupakan salah satu petinggi di LDK tersebut tak hanya menjadi petinggi, Dhika juga merupakan anak yang tergolong pintar di kampusnya sehingga wajar saja jika banyak orang yang minta diajarkan mengenai suatu mata kuliah termasuk para akhawat di LDK tersebut. 

Seorang akhawat bertanya, itu menjadi sebuah hal yang biasa bagi dirinya. Kalkulus, fisika, maupun kimia bisa dia jawab dengan baik. Namun, suatu hari ada sebuah pertanyaan aneh yang dilontarkan salah seorang akhawat yang notabene juga merupakan pengurus di LDK tersebut, pertanyaan mengenai fiqih wanita. Sontak Dhika kaget kemudian balik bertanya, "Kenapa tidak bertanya ke murabbi antum ukhti ?" kemudian sang akhawat menjawab "Habis murabbi saya bla.. bla.. bla..", yang intinya hujjah dari sang murabbi tidak kuat dan penjelasannya cenderung memaksa dan tidak nyambung sehingga sang akhawat tidak merasa pertanyaannya terjawab. Dhika pun tidak mau menjawab bukan hanya karena canggung tetapi memang tidak tahu.
Beberapa hari kemudian, Dhika mendapat sebuah sms dari akhawat yang berbeda. Isinya "Dhik, mau nanya tapi lewat e-mail aja ya ..". Dhika pun menjawab "Tidak masalah, santai aja ama saya. Kalau sudah dikirim sms aja". Beberapa hari e-mail dari sang akhawat tiba-tiba sms kembali masuk dari sang akhawat "Ma'af komputer tidak bisa dipake, jadi nanya ya pake surat aja ya..". "Ok lah, ga jadi masalah" jawab Dhika. Setelah itu, sang akhawat memberikan sebuah kertas ke Dhika. Sebelum kertas itu dibuka, ternyata di depannya ada sebuah tulisan "Pastikan ketika Anda membuka surat ini, tidak ada siapa pun yang melihatnya". Dhika pun kemudian membuka surat itu huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf, halaman demi halaman (ada sekitar 4 halaman) ia baca, setelah membaca lebih dari setengah isi surat ia baru menyadari dalam hatinya ia berkata "Et dah, ni akhawat curhat soal keluarganya lah..". Sebuah kalimat yang menarik baginya "Ma'af ya, aku ga tau harus cerita sama siapa lagi, aku udah cerita ke teman-teman ku tapi bla bla bla" intinya jawaban temannya tidak membantu dan hanya bikin pusing, dan sebuah kalimat terakhir "Aku harap Dhika bisa bantu. Oh ya, jangan kasih tau siapa-siapa ya...".

Dhika pun geleng-geleng, ni akhawat masalahnya minta diselesaikan tapi ga boleh ada yang tau. Saya kan ikhwan, emang bisa seorang ikhwan menyelesaikan masalah akhawat? Akhirnya, Dhika pun membalas surat sang akhawat yang inti suratnya adalah meminta sang akhawat untuk banyak mendekatkan diri kepada Allah dan menceritakan sebuah kisah perjuangan seseorang yang tak pernah menyerah. Beberapa hari setelah menyerahkan surat balasan, sms masuk dari sang akhawat yang intinya sangat berterima kasih atas jawabannya. Dhika kemudian bingung karena ia merasa tidak membantu begitu banyak mengenai masalah sang akhawat.

Sebuah Pelajaran

Saudariku, sungguh temanmu sangat membutuhkanmu maka seharusnya engkau ada untuk membantu menyelesaikan masalahnya. Kita lihat dari akhawat pertama bagaimana seharusnya jika sang murabbi dari akhawat tidak mengetahui hendaknya tak memaksakan jawaban, menunda jawaban untuk bertanya ke seseorang yang lebih tahu lebih baik dibandingkan dengan memaksakan jawaban. Begitu juga dengan akhawat kedua, saudariku sungguh ia membutuhkan jawabanmu membutuhkan keseriusanmu dalam menyelesaikan masalah maka jawablah masalah itu dengan sebuah kesungguhan bantulah ia, jangan biarkan ia sendiri.

Sebagai seorang ikhwan turut berpesan bagi kalian para akhawat. Janganlah kalian menceritakan kegalauan kalian di status facebook kalian, atau melalui tweet kalian, atau hal lain yang bisa diakses secara umum. Kalian tidak tahu ikhwan yang ada diluar sana pun dapat tutur dalam kegaluan kalian. Cukuplah Allah subahanahu wa Ta'ala sebagai tempat curhat kalian. Sungguh, sekuat apapun seorang ikhwan membentengi diri, namun jika akhawat tidak menjaga diri maka suatu saat benteng itu akan roboh. Jagalah diri kalian wahai saudariku.

Buat para ikhwan -saya juga-, dekatkanlah selalu diri kita kepada Allah subahanahu wa Ta'ala. Hindarilah terlalu banyak interaksi yang dapat menjerumuskanmu.


Wallahu a'lam bisshawab

Minggu, 22 Desember 2013

Belajar Dari Masa Lalu, untuk Masa Depan Lebih Baik

Sejarah bukan merupakan sebuah kisah yang hanya dijadikan dongeng orang-orang dahulu, atau hanya dijadikan sebuah kenangan dalam mengingat masa kejayaan. Setiap peristiwa yang telah berlalu memiliki makna tersendiri jangan pernah mengira bahwa peristiwa yang sudah lewat hanya bisa ditangisi tanpa adanya pelajaran yang dapat diambil.

Kita mengenal bahwa Islam dahulu pernah memiliki sejarah yang gemilang, tidak hanya dari segi kemajuan ilmu pengetahuan, luasnya wilayah, harta yang melimpah. Namun, hal yang paling penting adalah kuatnya nilai-nilai keislaman yang terpatri di dalam dada setiap masyarakatnya sehingga tidak heran ulama sangat dihargai dan keputusannya mejadi sebuah landasan dalam menjalankan sebuah negara.Cerita diwabah ini mungkin dapat dijadikan sebuah renungan dan pelajaran bagi kita, dan bagi da'wah kita. Sebuah kisah nyata yang di adopsi dari sejarah umat Islam.

Kita, sebagai umat Islam tentu mengenal sosok Muhammad Al-Fatih seorang pemuda yang berasal dari kesultanan Turki Utsmaniyah yang berhasil menaklukkan kota Konstatinopel (dikenal kuat tembok pertahanannya selama 800 tahun ), atau shalahuddin Al-Ayubi seorang yang kembali merebut Baitul Maqdis ke tangan orang Muslim. Menjadi sebuah pertanyaan, adakah diantara kita yang mengenal Timur Lenk? Sebuah nama yang asing bagi telinga kita, siapa dia? Sedikit menceritakan tentang Timur Lenk, dia merupakan seorang raja dari dinasti Timuriyah yang berpusat di Samarqand (sebuah kota yang sekarang ada di Uzbekistan), dia berasal dari suku Barlas yang bercorak Turkistan. Nenek moyangnya merupakan orang kesayangan Jengis Khan.

Pada zaman kekuasaan Timur Lenk, terdapat 3 buah negara yang mengaku sebagai kesultanan muslim yang pertama adalah Turki Utsmaniyah yang berpusat di Edirne, Anatolia yang dipimpin oleh Sultan Bayazid I. Kesultanan Mamluk yang berpusat di Kairo, Mesir. Terakhir adalah kesultanan Timur Lenk. Menjadi sebuah pertanyaan baru, ketika kedua kesultanan (Utsmaniyah dan Mamluk) begitu terkenal namun tidak dengan kesultanan Timuriyah. Kenapa itu bisa terjadi? Jika dianalisis, kesultanan Timuriyah merupakan negara terkuat saat itu.

Hal ini bisa dijawab karena kesultanan Timuriyah tidak ubahnya seperti pasukan mongol yang menghancurkan Baghdad. Imam As-Suyuthi menganggap Timur Lenk sebagai bencana bagi umat Muslim abad 8. Timuriyah menganggap bahwa di dunia ini harus dipimpin oleh satu orang, dan menurutnya dialah yang pantas sehingga dia melakukan ekspansi ke daerah kesultanan Utsmaniyah dan menghancurkannya, saat itu Sultan Bayazid I pun ditangkap. Hal ini merupakan sebuah ironi bagaimana mungkin seorang muslim menyerang sesamanya trlebih lagi tindakan pengrusakan yang dilakukan Timur Lenk sangat keji. itulah sebabnya mengapa Timur Lenk tidak pernah diakui sebagai pahlawan Islam.

Menjadi sebuah pelajaran bagi kita dimana sebuah kekuasaan tidak menjadi tujuan utama bagi dakwah. Para ulama sangat berhati-hati dalam menetapkan ini, tidak ada gunanya kekuasaan dakwah hanya bertujuan untuk menegakkan aturan Allah subahanahu wa Ta'ala. Sebuah kisah lagi, kali ini tentang Muhammad Al-Fatih.

Tidak dipungkiri bahwa sosok Muhammad Al-Fatih menjadi inspirasi bagi banyak umat Muslim, namun pernah suatu ketika beliau berbuat kesalahan. Saat itu, beliau telah menguasai Konstantinopel. Pada suatu hari, beliau meminta pengawalnya untuk memberikan sebuah surat keputusan kepada Imam Al-Qurani rahimahullah (Mufti Kesultanan Utsmaniyah) sebagai tanda restu untuk dilakukannya sebuah aturan. Ketika Imam Al-Qurani rahimahullah membaca surat tersebut, beliau melihat adanya sebuah pelanggaran pada syariat Allah subahanahu wa Ta'ala, maka Imam Al-Qurani rahimahullah merobek surat keputusan tersebut dan meminta pengawal mengatakan kepada sultan untuk merubah surat keputusannya itu. Ketika Muhammad Al-Fatih mengetahui perlakuan dari Imam Al-Qurani rahimahullah, sang sultan justru murka kepada sang Imam dan tidak mau meralat keputusannya. Ketika mendengar Muhammad Al-Fatih tak mau merubahnya, maka Imam Al-Qurani rahimahullah pun pergi meninggalkan Kesultanan Utsmaniyah, beliau pergi ke Kesultanan Mamluk. Beberapa waktu kemudian, sang sultan pun mengetahui kesalahannya dan meminta sang Imam untuk balik ke kesultanannya dan sang Imam pun mema'afkan Muhammad Al-Fatih.

Sungguh sebuah keteguhan dari seorang ulama, beliau tak silau terhadap kekuasaan yang dimiliki Muhammad Al-Fatih. Hal ini harusnya menjadi sebuah pelajaran bagi kita, bahwa dakwah bukan untuk penyelesaian sebuah misi duniawi (baca : proker), tetapi merupakan sebuah jalan untuk menegakkan aturan Allah subahanahu wa Ta'ala. Itulah dakwah kita, parameternya bukan selesainya proker, teraihnya sebuah misi dunia tapi merupakan tercapainya sebuah keridhoan Allah subahanahu wa Ta'ala. Wallahu a'lam bisshawab
Sumber
1. Tarikh Khulafa, Imam As-Suyuthi
2. Cobaan Para Ulama, Syaikh Syarif Abdul Aziz
3. Sulthan Muhammad AL-Fatih, Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi
4. Ensiklopedi Sejarah Islam, Tim Riset dan Studi Islam Mesir


 

Sabtu, 25 Agustus 2012

Kita Tak Hanya di Butuhkan di Kampus


                Kampus merupakan miniatur sebuah negara oleh karena da’wah di kampus menjadi hal yang sangat urgent. Namun, saudaraku tahukah engkau bahwa terkadang kita selalu mengistimewakan da’wah di kampus tanpa mempedulikan da’wah di tempat lain. Bukankah seharusnya kita berda’wah di manapun?

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas” (Q.S Al-kahfi : 28)

Dan ingatlah kawan sebesar apapun usaha kita sesungguhnya hidayah itu datang dari Allah dan kita tak mampu menuntutnya kita hanya berusaha

“Dan jika kamu (orang kafir) mendustakan, maka umat yang sebelum kamu juga telah mendustakan. Dan kewajiban rasul itu, tidak lain hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya." (Q.S Al-Ankabut : 29)

Sebuah pengalaman yang saya rasakan ketika berhari raya Idul Fitri di kampung. Berikut ceritanya

                 Hari ini adalah tanggal 1 Syawal 1433 H, sebuah hari yang sangat berbahagia karena ini adalah hari Idul Fitri. Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini pun aku melaksanakan shalat Idul Fitri di kampung ku. Namun, ada sesuatu yang berbeda sebab pada tahun ini aku tidak tingga lagi kampung bersama orang tua ku, aku sekarang tinggal di Bandung disebabkan melanjutkan pendidikan di salah satu perguruan tingggi di kota tersebut, sehingga aku pun bisa dianggap sebagai pendatang.
                Hari itu berjalan seperti biasa ketika selesai melaksanakan Shalat Idul Fitri, kami pun meminta ma’af kepada orang lain mulai dari keluarga sampai ke tetangga di sekitar. Menjadi sebuah celetukan yang sangat menusuk ketika ada diantara tetangga ku yang berkata “Lukman kemana aja nih, ga keliatan padahal ditungguin buat ngisi di mushalla. Eh, malah baru datang sekarang”. Kemudian orang-orang yang berada di sekitar pun mulai berujar “Tau nih, masa ngurusin yang di luar doang, masa yang disini ga diurusin”.
                Berfikir sejenak, dan ternyata memang benar bahwa selama ini saya kurang dalam berda’wah di sekitar rumah. Padahal, ladang da’wah terbuka lebar. Aku bukanlah seorang yang baru pulang dari Mekkah, Madinah, ataupun Kairo yang notabene berisi mahasiswa yang belajar secara mendalam ilmu agama, aku bukanlah seorang yang sedang menuntut ilmu agama secara spesifik di Bandung. Tapi kenapa mereka mengharapkanku?
                Saudaraku, yang menjadi pelajaran adalah terkadang kita merasa da’wah pasti tertolak tapi apakah seperti itu? Terkadang kita sendiri yang menolak ladang da’wah itu, kita terkadang merasa bahwa di tempat ini efek da’wah kurang terasa, jadi ga usah da’wah disini. Tapi apakah seperti itu? Bukankah yang berhak menentukan hidayah adalah Allah? Terkadang kita terlalu mempetak-petakkan ladang da’wah padahal semua ornag berhak mendapatkan da’wah.
 

Jumat, 24 Agustus 2012

Dimana Kita Memposisikan Al-Qur'an?


Mungkin menjadi sebuah cerminan dalam diri kita ketika petunjuk hidup tidak lagi menjadi petunjuk. Ketika Al-Qur’an hanya dianggap sebuah buku biasa yang tak ubahnya seperti buku text book kuliah bahkan lebih rendah lagi. Berikut kisahnya.
Suatu hari saya sedang pergi ke toko buku, menarik memang melihat 2 orang wanita yang sedang melihat-lihat Al-Qur’an sambil memilih model dan jenis Al-Qur’an yang ingin ia beli. Awalnya saa menganggap itu merupakan hal biasa sebab terkadang saya pun sering melakukannya jenis font tulisan yang tidak semuanya sama dan juga mungkin warna yang kita sukai.
Kedua wanita itu terus saja berbincang tentang model yang ingin mereka beli, sampai suatu percakapan yang membuat saya miris. Yang kira-kira redaksinya seperti ini “Eh, Al-Qur’an ini bagus dah, di dalamnya ada coraknya dan ini juga ada terjemahannya”,kata salah seorang diantara mereka. Kemudian dia melanjutkan kata-katanya “Sebenarnya ga terjemahannya ga ada masalah sih, ini kan Cuma buat kenang-kenangan aja, hahhaha”.
Begitu rendahkah kita memperlakukan Al-Qur’an yang notabene merupakan firman Allah Subahanallahu wa Ta'ala? Apakah Al-Qur’an hanya dijadikan cinderamata saat idul fitri? Apakah Al-Qur’an hanya dijadkan pajangan dan untuk mengusir setan? Apakah Al-Qur’an hanya dijadikan mahar pada pernikahan? Fungsi Al-Qur’an jauh lebih berharga dari itu semua, ia harusnya dijadikan sebuah petunjuk hidup referensi segalanya
“Kitab(Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” (Q.S Al-Baqarah : 2)
Tidak kah kita merasa sedih ketika kita mendengar firman Allah Subahanallahu wa Ta'ala
“Berkatalah Rasul: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan’. (Q.S Al-Furqan : 30)
                Saudaraku, ketahuilah sungguh ayat-ayat Allah itu sangat mahal (Q.S Al-Baqarah :174) janganlah kita menjadikan Al-Qur’an sebagai suatu yang rendah, Al-Qur’an haruslah dimaknai isi dan kandungannya itulah yang membuat hidup kita teratur. “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?” (Q.S Al-Maidah: 50)

Kamis, 31 Mei 2012

Jangan Bersedih, Sungguh Allah Subahanallahu Wa Ta'ala Bersama Kita


          Mungkin sering terbersit dalam benak kita rasa lelah, rasa bosan, dan rasa ingin berhenti pada jalan ini. Bukanlah suatu hal yang aneh bila ini pernah kita rasakan. Mungkin dalam menapaki jalan ini, kita sering merasa heran selama ini kita berda'wah bukan untuk uang, bukan untuk kekuasaan, dan juga bukan untuk mendapatkan pujian bahkan kita rela mengorbankan waktu, tenaga, dan uang kita dalam jalan ini, menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran. Lalu, kenapa da'wah kita sering tertolak?
            Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda : “Tolonglah saudaramu ketika didzalimi dan ketika mendzalimi”. Para sahabat bertanya : “ Ya rasul, bagaimana kami menolong sahabat kami yang sedang mendzalimi ?” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab :”Dengan cara menghindarkan dia dari berbuat kedzaliman”.
               Saudaraku, da'wah bukanlah sesuatu yang pasti diterima, jalan da'wah bukanlah jalan yang ringan melainkan jalan yang berat, bahkan Nabi Nuh -seorang rasul- pun pernah mengadukan hal ini kepada Allah Subahanallahu wa Ta'ala (Q.S Nuh : 5-20). Seperti inilah jalan da'wah, keberhasilan seseorang dalam berda'wah tidak bisa dilihat dari hadirnya banyak orang ketika ta'lim, terwujudnya proker-proker di Rohis-rohis di sekolah atau LDK-LDK di kampus, atau pun ketika kita memegang kekuasaan.
            Percayalah saudaraku, ada atau tidak adanya kita, suatu saat nanti Islam akan berjaya yang terpenting adalah apakah kita termasuk orang yang berkontribusi di dalamnya? Tugas da'wah kita bukanlah untuk menjalankan proker, bukanlah untuk meraih kekuasaan, dan tidak juga mencari kuantitas masa itu semua hanyalah alat dan tak boleh menjadi tujuan sementara itu, tujuan da'wah kita adalah meraih ridho-Nya dalam setiap aktivitas yang kita lakukan.
                   Semoga kita selalu dilimpahkan nikmat-Nya yang paling besar, yakni nikmat iman dan islam serta semoga kita selalu dalam rahmat-Nya dan kuat menghadapi setiap ujian-Nya hingga kita dimasukkan ke surga-Nya. amiin. Semoga dapat menjadi pelajaran bagi kita semua khususnya penulis wallahu'alam bisshawab.

Selasa, 15 Mei 2012

Bangunlah dari Bawah



                Terkadang, kita berfikir bahwa untuk menghasilkan sesuatu yang besar kita harus menjadi orang besar. Kita menganggap bahwa dengan menjadi orang yang berkedudukan tinggi ataupun memiliki figuritas yang besar dapat menghasilkan pengaruh yang besar dan dapat mempengaruhi orang lain. Hal ini mungkin memang penting, tapi apakah ini menajdi yang utama? Dalam da’wah kita sering berucap bahwa kita harus menjadi seorang yang memiliki kedudukan tinggi jika da’wah kita mau didengar. Tapi, terkadang hal ini terlalu diutamakan sehingga kita rela mengorbankan segalanya demi merebut kekuasaan atau pengaruh bahkan terhadap hal paling fundamental yakni ibadah kita.
                Tidak dipungkiri bahwa dengan kekuasaan kita memang bisa mempengaruhi seseorang. Tapi, apakah itu menjadi sesuatu yang melekat? Apakah ketika kekuasaan itu hilang orang yang terpengaruh terhadap kita tetap mengikuti kita? Saudaraku, Islam tidak dibangun atas sebuah doktrinasi ataupun paksaan (Q.S 2 : 256) tetapi Islam dibangun atas keimanan yang kuat, Tauhid yang menyeluruh, dan tentunya punya sebuah hikmah dalam penyampaiannya. Rasulullah Salallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita bahwa beliau membangun masyarakat Islam dari bawah bagaimana beliau membina sebuah masyarakat menjadi sebuah masyarakat yang kuat dari segi keimanan dan ketaqwaan. Suatu hari melalui pamannya Abu Thalib beliau pernah ditawari 3 hal oleh orang kafir Quraisy wanita, tahta ,dan harta. Namun, beliau hanya menjawab “wahai pamanku, seandainya mereka memberikan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku tapi bila tebusannya adalah da’wah maka aku tidak akan menerimanya”.
                Bukan hanya tentang sebuah kekuasaan, tetapi juga sebuah figuritas. Terkadang kita juga mengorbankan segalanya demi meraih figuritas. Berapa banyak orang yang rela meninggalkan identitas keislamannya sehingga ia rela membaur secara berlebihan untuk mendapatkan sebuah figuritas di suatu golongan. Padahal, apakah figuritas harus didapat dengan cara berbaur berlebihan? Bukankah Rasulullah Salallahu 'alaihi wa sallam pun menjadi publik figur tanpa harus mengorbankan identitasnya sebagai seorang Muslim? Apakah ini yang kita cari? Kita sedang mencari kekuasaan dan popularitas atau da’wah dan ridho Allah Subahanallahu wa Ta'ala? Ketahuilah saudaraku, jika kita beranggapan bahwa da’wah kita tidak diterima hanya karena kita tidak memiliki kekuasaan itu adalah sebuah hal yang tidak pantas sebab dimana pun posisi kita, kita wajib berda’wah. Begitu juga dengan figuritas jangan pernah beranggapan bahwa figuritas hanya bisa di dapat dengan membaur secara berlebihan sampai meninggalkan identitas kita sebagai muslim. Karena figur seorang muslim jauh lebih baik dari itu semua. Kenapa kita tidak menjadi seorang muslim sejati saja seperti yang dilakukan Rasululllah Salallahu 'alaihi wa sallam, menjadi seorang yang jujur, tepat waktu, ramah, dermawan dll. Bukankah ini jauh lebih tepat?
                Sejarah Islam telah mengajarkan kita bahwa jumlah, kekuasaan, dan kekuatan tidak akan berguna tanpa adanya pertolongan Allah Subahanallahu wa Ta'ala. Mulai dari kisah Rasulullah Salallahu 'alaihi wa sallam yang telah saya ceritakan di atas, kemudian kisah beliau ketika perang Hunain hingga dikisahkan dalam Q.S 9 : 25, dilanjutkan pada sebuah kisah di zaman Khalifah Umar bin Khatab Radiyallahu Anhu ketika beliau memecat Khalid bin Walid sebagai panglima perang diakibatkan pada pasukan kaum muslim mulai muncul bibit-bibit kemusyrikan yang menganggap bahwa jika panglimanya adalah Khalid bin Walid maka pasukan akan selalu menang, serta yang terakhir adalah ketika pasukan Muhammad Al-fatih berhasil merebut Konstatinopel dan Rasulullah Salallahu 'alaihi wa sallam menyebutnya sebagai sebaik-baik panglima dan pasukannya sebaik-baik pasukan. Sejarah selalu berulang dimana kekuatan keimanan selalu menang.  
                Lantas bagaimana hal ini bisa muncul diantara kita? Mungkin sebuah pertanyaan ini akan bisa menjawab. “Pada fasa apa kaum muslim memiliki kemajuan pesat atau bisa dikatakan paling berjaya?” mungkin banyak diantara kita yang menjawab pada fasa Bani Abasyiah saat pengetahuan maju atau saat Turki Utsmani ketika kita menjadi sebuah kekuatan yang amat ditakuti. Tapi, jawaban yang paling tepat adalah fasa Rasulullah Salallahu 'alaihi wa sallam karena pada saat itulah tercipta generasi terbaik yang nyaris tak mungkin terulang lagi. Selama ini kita beranggapan bahwa suksesnya da’wah adalah ketika kita berhasil meraih kemajuan teknologi ataupun meraih sebuah kekuasaan. Itu semua sebenarnya adalah buah dari tujuan da’wah yang sebenarnya yakni menciptakan generasi terbaik. Wallahu ‘alam. Semoga ini bisa menjadi renungan bagi penulis.